Kediri – Kehidupan tak pernah berjalan mudah bagi Nur Atikah. Sejak lahir, perempuan asal Banyuwangi itu harus hidup dengan kondisi low vision atau gangguan penglihatan yang membuat kemampuan melihatnya sangat terbatas. Meski demikian, keterbatasan tersebut tak menghalangi langkahnya untuk mengukir prestasi sebagai atlet disabilitas nasional di cabang atletik nomor lari dan lompat jauh.
Perempuan yang akrab disapa Tika itu mengaku sejak kecil sudah merasakan ada yang berbeda dengan penglihatannya. Saat berjalan, ia kerap menabrak tembok maupun benda di sekitarnya. Tak jarang pula ia terjatuh karena kesulitan memfokuskan pandangan.
"Pas jalan tiba-tiba nabrak. Kalau tidak ya jatuh," kenangnya sambil tersenyum mengingat masa kecilnya.
Saat duduk di bangku kelas lima sekolah dasar, Tika mulai menyadari kondisi matanya tidak sama dengan anak-anak lain. Ia kesulitan melihat benda dari kejauhan dan pandangannya tidak bisa fokus lurus. Aktivitas sederhana yang mudah dilakukan teman-temannya justru menjadi tantangan baginya.
Kesadaran itu sempat membuatnya terpukul. Apalagi saat itu guru menyarankan agar dirinya menjalani operasi mata. Namun harapan tersebut kandas karena kondisi ekonomi keluarga yang pas-pasan. Kedua orang tuanya hanya bekerja serabutan sehingga biaya operasi tidak mampu dipenuhi.
"Karena ekonomi pas-pasan, jadi tidak bisa operasi," ujarnya.
Kondisi tersebut membuat Tika sempat kehilangan kepercayaan diri. Ia lebih banyak menghabiskan waktu di rumah sepulang sekolah dan sering mempertanyakan mengapa dirinya harus terlahir dengan kondisi seperti itu.
"Kenapa aku dilahirkan seperti ini. Kok berbeda dari yang lain," kenangnya.
Namun perlahan, dunia seni menjadi jalan baginya untuk bangkit. Tika mulai mengikuti berbagai lomba menyanyi dan menari. Meski memiliki keterbatasan penglihatan, guru-gurunya dengan sabar membimbing setiap gerakan melalui sentuhan hingga akhirnya ia berhasil meraih berbagai penghargaan.
Pengalaman mengikuti berbagai perlombaan itu mempertemukannya dengan banyak penyandang disabilitas lain. Dari sanalah cara pandangnya berubah. Ia melihat banyak orang dengan kondisi yang lebih berat, bahkan mengalami kebutaan total, namun tetap mampu berprestasi.
Kesadaran tersebut menjadi titik balik dalam hidupnya. Ia memilih berhenti mengasihani diri sendiri dan mulai meyakini bahwa keterbatasan bukan alasan untuk menyerah.
Dukungan keluarga turut memperkuat tekadnya. Kedua orang tuanya selalu memberikan kebebasan selama kegiatan yang dijalani bersifat positif. Restu sederhana itu menjadi bekal bagi Tika untuk terus mengejar impiannya.
Perjalanan hidup kemudian membawanya bekerja di Surabaya sebelum akhirnya menetap di Kota Kediri. Di kota inilah ia bertemu Mikro Divani Irawan, penyandang low vision yang kemudian menjadi suaminya.
Pertemuan tersebut menjadi awal perubahan besar dalam hidup Tika. Sang suami yang lebih dulu menjadi atlet para atletik nomor lempar cakram harus menghentikan karier akibat cedera. Ia kemudian mendorong Tika mencoba nomor lari karena atlet disabilitas di cabang tersebut masih sangat sedikit.
Awalnya, Tika menerima ajakan itu dengan penuh keraguan. Pada latihan pertama, ia mengalami kecelakaan karena langkahnya tidak seirama dengan guide runner yang mendampinginya. Kakinya tersandung batu hingga terjatuh dan kepalanya membentur tanah.
"Badan babras semua, kepala juga tidak bisa dipegang saking sakitnya," tuturnya.
Pengalaman tersebut sempat membuatnya trauma. Ia bahkan berpikir untuk berhenti menjadi atlet. Namun sang suami terus memberikan semangat dan meyakinkannya bahwa setiap atlet pasti pernah jatuh sebelum meraih kemenangan.
Motivasi itu membuat Tika kembali ke lintasan. Ia kemudian berlatih bersama guide runner baru, Abyan Farrel Pramudita Wicaksana. Keduanya mampu membangun komunikasi dan ritme langkah yang selaras sehingga performa Tika terus meningkat.
Kerja kerasnya akhirnya membuahkan hasil. Tika berhasil meraih posisi runner-up nomor lari 100 meter pada ajang Paralimpik Jawa Timur. Tak hanya itu, ia juga sukses mempersembahkan medali emas di nomor lompat jauh, cabang yang sebelumnya tidak terlalu diminatinya.
Saat ini Tika tengah beristirahat dari dunia kompetisi karena menantikan kelahiran buah hati. Meski demikian, ia memastikan akan kembali berlatih setelah kondisinya pulih untuk mengejar prestasi yang lebih tinggi.
Baginya, kemenangan bukan hanya soal medali. Keberhasilan terbesar adalah saat dirinya mampu mengalahkan rasa takut dan keraguan yang pernah membatasi hidupnya.
"Dari seorang anak yang sering menabrak karena tak mampu melihat jelas, kini saya bisa berlari mengejar prestasi. Kondisi bukan penghalang. Asal punya tekad kuat, apa pun bisa diraih," pungkasnya.(red/lis)
Posting Komentar