JOGJA- Aktivitas vulkanik Gunung Merapi yang berada di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Jawa Tengah masih terpantau tinggi pada Selasa, 30 Juni 2026. Berdasarkan laporan terbaru dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), gunung api aktif tersebut kembali memuntahkan guguran lava pijar sebanyak 11 kali.
Luncuran lava pijar tercatat memiliki jarak luncur maksimum hingga 2.000 meter atau sekitar 2 kilometer. Material pijar mengarah ke hulu Sungai Sat dan Sungai Putih yang menjadi salah satu jalur aliran lava di kawasan Merapi.
Dari hasil pengamatan visual, kondisi puncak Gunung Merapi tampak cukup jelas sepanjang periode pengamatan. Asap kawah berwarna putih teramati membumbung dengan ketinggian sekitar 50 meter di atas puncak. Cuaca di kawasan gunung didominasi kondisi cerah hingga cerah berawan sehingga memudahkan pemantauan aktivitas vulkanik.
Sementara itu, kondisi cuaca di sekitar Gunung Merapi tercatat memiliki suhu udara berkisar antara 14,9 hingga 17,2 derajat Celsius. Tingkat kelembapan udara berada pada rentang 66,3 hingga 86 persen.
Selain aktivitas guguran lava, data kegempaan juga menunjukkan masih tingginya dinamika di dalam tubuh gunung. Berdasarkan laporan dari laman MAGMA Indonesia BPPTKG, selama periode pengamatan tercatat sebanyak 40 kali gempa guguran. Gempa jenis ini umumnya berkaitan dengan runtuhnya material lava dari kubah gunung yang kemudian meluncur menuruni lereng.
Di samping itu, petugas juga merekam 22 kali gempa hybrid. Gempa hybrid merupakan salah satu indikator adanya pergerakan fluida maupun magma di dalam tubuh gunung sehingga terus dipantau secara intensif oleh petugas vulkanologi.
Hingga saat ini, Gunung Merapi yang memiliki ketinggian 2.968 meter di atas permukaan laut (mdpl) masih berstatus Siaga (Level III). Status tersebut menunjukkan bahwa aktivitas vulkanik masih berada di atas kondisi normal sehingga masyarakat diminta tetap meningkatkan kewaspadaan dan mematuhi seluruh rekomendasi dari otoritas terkait.
Gunung Merapi merupakan salah satu gunung api paling aktif di Indonesia yang secara rutin memperlihatkan aktivitas erupsi efusif. Aktivitas tersebut ditandai dengan pertumbuhan kubah lava, guguran lava pijar, awan panas guguran, hingga lontaran material vulkanik.
Guguran lava pijar dan awan panas berpotensi mengalir melalui sejumlah alur sungai yang berhulu di puncak Merapi, di antaranya Sungai Bedog, Sungai Bebeng, Sungai Boyong, Sungai Krasak, Sungai Gendol, dan Sungai Woro. Sementara itu, material vulkanik yang terlontar saat terjadi erupsi eksplosif dapat menjangkau radius hingga 3 kilometer dari puncak.
BPPTKG mengimbau masyarakat, khususnya yang beraktivitas di kawasan rawan bencana (KRB), agar tidak memasuki zona berbahaya sesuai rekomendasi yang berlaku serta terus memantau informasi resmi mengenai perkembangan aktivitas Gunung Merapi.(red/lis)
Posting Komentar