TIDAK NYAMAN: Salah satu kelompok pengamen yang meminta uang kepada wisatawan (photo by radar jogja)
JOGJA- Aktivitas pengamen liar di kawasan Malioboro masih menjadi persoalan yang kerap dikeluhkan wisatawan, meskipun penertiban rutin telah dilakukan oleh petugas. Keberadaan mereka bahkan cenderung meningkat pada masa liburan sekolah, saat jumlah pengunjung di kawasan wisata tersebut mengalami lonjakan.
Berdasarkan pantauan Radar Jogja pada Minggu (28/6/2026) mulai sore hingga malam hari, aktivitas pengamen liar terlihat cukup intens, khususnya di kawasan pedestrian depan Plaza Malioboro. Dalam pengamatan yang dilakukan dengan duduk di area tersebut selama kurang lebih 45 menit, sedikitnya tiga kelompok pengamen datang secara bergantian. Rata-rata, setiap sekitar 15 menit terdapat satu kelompok yang menghampiri wisatawan yang sedang duduk bersantai.
Setiap kelompok umumnya terdiri atas dua hingga tiga orang. Sebagian di antaranya menggunakan alat musik sederhana seperti gitar dan ketipung yang terbuat dari pipa paralon, sementara kelompok lainnya hanya mengandalkan tepukan tangan sebagai pengiring lagu. Mereka biasanya mendatangi pengunjung satu per satu untuk bernyanyi dan meminta uang.
Dalam praktiknya, para pengamen baru meninggalkan wisatawan setelah memperoleh sejumlah uang atau ketika pengunjung memberikan penolakan secara tegas. Gestur berupa lambaian tangan sering kali belum cukup membuat mereka pergi. Beberapa pengunjung bahkan harus menyampaikan penolakan secara langsung agar para pengamen menghentikan aksinya.
Kondisi tersebut menimbulkan rasa kurang nyaman bagi sebagian wisatawan. Muhammad Arga, wisatawan asal Sidoarjo, Jawa Timur, mengaku mengalami pengalaman serupa saat menghabiskan waktu sekitar satu jam di Malioboro. Menurutnya, pengamen tetap melanjutkan nyanyian meski dirinya telah memberi isyarat menolak.
"Tadi saya coba lambai-lambai tidak pergi. Pengamennya baru pergi setelah saya bilang, 'Maaf mas, tidak ada uang receh'," ujarnya kepada Radar Jogja.
Arga menilai keberadaan pengamen liar cukup mengganggu kenyamanan wisatawan karena mereka sering kali tidak segera menghentikan aktivitasnya meski telah diberikan penolakan secara halus. Ia berharap ada pengawasan yang lebih konsisten sehingga wisatawan dapat menikmati suasana Malioboro tanpa merasa terganggu.
Keluhan serupa juga disampaikan Puspitasari, wisatawan asal Sleman. Menurutnya, maraknya pengamen liar menunjukkan bahwa pengawasan di kawasan Malioboro masih perlu diperkuat. Selama berada di lokasi pada sore hari, ia mengaku tidak melihat keberadaan petugas keamanan yang melakukan patroli atau menghalau aktivitas pengamen.
Ia berpendapat, peran petugas seperti Jogomaton maupun Satpol PP perlu lebih dioptimalkan agar aktivitas yang dinilai mengganggu ketertiban umum dapat diminimalkan. Dengan pengawasan yang lebih intensif, kawasan Malioboro diharapkan tetap menjadi ruang publik yang nyaman bagi seluruh pengunjung.
Menanggapi kondisi tersebut, Kepala UPT Pengelolaan Kawasan Cagar Budaya Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Fitria Dyah Anggraeni, menjelaskan bahwa pihaknya terus mengoptimalkan peran petugas Jogomaton dalam menjaga ketertiban kawasan Malioboro. Petugas tidak hanya bertugas memberikan informasi kepada wisatawan, tetapi juga melakukan pengawasan terhadap berbagai aktivitas yang berpotensi mengganggu kenyamanan pengunjung.
Menurut Anggi, sapaan akrabnya, petugas secara rutin menertibkan pengamen liar, pedagang asongan, tukang pijat, hingga pengguna sepeda listrik yang melanggar ketentuan di kawasan pedestrian. Selain patroli harian, razia juga dilakukan secara berkala sebagai upaya menjaga ketertiban dan kenyamanan kawasan wisata tersebut.
"Razia rutin sudah kami lakukan," ujarnya.
Meski demikian, masih ditemukannya aktivitas pengamen liar menunjukkan bahwa upaya penertiban masih menghadapi tantangan, terutama pada periode libur sekolah ketika jumlah wisatawan meningkat. Kondisi ini menjadi perhatian agar koordinasi antarinstansi dalam pengawasan kawasan Malioboro dapat terus diperkuat sehingga kenyamanan dan citra kawasan wisata andalan Kota Yogyakarta tetap terjaga.(*red/lis)
Posting Komentar