Grup Facebook Berkedok Komunitas LGBT Situbondo Viral, Warga Resah

(photo by memorandum co.id)



 SITUBONDO – Keberadaan sebuah grup publik di media sosial Facebook yang mengatasnamakan komunitas LGBT di Kabupaten Situbondo mendadak menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat. Grup tersebut viral setelah diketahui dapat diakses secara bebas oleh siapa pun dan memiliki lebih dari 3.126 anggota yang berasal dari berbagai akun pengguna.

Berdasarkan penelusuran pada Kamis (2/7), grup Facebook tersebut berstatus publik sehingga seluruh unggahan dan aktivitas anggotanya dapat dilihat tanpa harus bergabung terlebih dahulu. Dari informasi yang tertera di halaman grup, komunitas tersebut telah dibuat sejak tahun 2014 dan hingga kini masih aktif dengan rata-rata sekitar tujuh unggahan setiap hari yang berkaitan dengan topik LGBT.

Kemunculan grup tersebut memunculkan beragam tanggapan dari masyarakat. Sebagian warga mengaku terkejut karena nama Kabupaten Situbondo dicantumkan sebagai identitas grup, sementara jumlah anggotanya juga tergolong cukup banyak. Kondisi itu dinilai perlu menjadi perhatian bersama, khususnya terkait pemanfaatan media sosial oleh kalangan remaja.

Salah seorang warga Situbondo, Yanto, mengaku baru mengetahui keberadaan grup tersebut saat melakukan pencarian di Facebook. Ia mengaku tidak menyangka ada komunitas dengan nama daerah yang memiliki jumlah anggota mencapai ribuan orang.

"Saya cukup kaget karena grup itu menggunakan nama Situbondo dan anggotanya sangat banyak. Menurut saya, kondisi ini perlu menjadi perhatian semua pihak, terutama dalam mengawasi penggunaan media sosial oleh generasi muda," ujarnya.

Senada dengan itu, Ratih, seorang ibu rumah tangga di Kota Situbondo, menilai perkembangan teknologi digital memang memberikan kemudahan bagi siapa saja untuk membentuk komunitas maupun jaringan melalui media sosial. Karena itu, menurutnya, keluarga tetap memegang peranan penting sebagai benteng pertama dalam memberikan pendampingan kepada anak.

"Sebagai orang tua, saya merasa harus lebih aktif mengawasi pergaulan dan aktivitas anak di dunia digital. Yang paling penting adalah meningkatkan pengawasan sekaligus memberikan edukasi agar anak-anak dapat menggunakan media sosial secara bijak dan bertanggung jawab," katanya.

Ratih juga menekankan bahwa upaya membangun literasi digital tidak bisa hanya dibebankan kepada keluarga. Menurutnya, sekolah, tokoh masyarakat, pemerintah daerah, hingga instansi terkait perlu bersinergi dalam memberikan edukasi mengenai penggunaan internet yang sehat, aman, dan bertanggung jawab kepada masyarakat.

Selain itu, sejumlah warga menyayangkan penggunaan nama "Situbondo" sebagai identitas grup tersebut. Mereka menilai pencantuman nama daerah berpotensi menimbulkan persepsi negatif terhadap citra Kabupaten Situbondo di ruang digital.

"Oleh karena itu, saya mewakili warga berharap ada langkah nyata dari instansi yang berwenang, baik berupa edukasi maupun upaya lain sesuai kewenangannya dalam menyikapi fenomena sosial yang berkembang di media digital," tutur Ratih.(red/lis)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama