JAKARTA- Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan pelemahan pada perdagangan Kamis (25/6/2026) pagi. Berdasarkan data yang dikutip dari Antara, kurs rupiah turun sebesar 15 poin atau sekitar 0,08 persen ke level Rp17.967 per dolar AS. Posisi tersebut lebih rendah dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di angka Rp17.952 per dolar AS.
Sejumlah analis menilai pergerakan rupiah pada hari ini masih akan dibayangi berbagai sentimen eksternal dan domestik yang memengaruhi pasar keuangan. Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah. Ia memproyeksikan mata uang Garuda akan berada dalam rentang Rp17.950 hingga Rp18.020 per dolar AS sepanjang perdagangan Kamis.
Menurut Ibrahim, tekanan terhadap rupiah masih cukup kuat meskipun pasar mulai melihat adanya perkembangan positif dari situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah. Pada perdagangan Rabu (24/6/2026), rupiah ditutup melemah 93 poin ke level Rp17.952 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp17.859 per dolar AS. Bahkan selama sesi perdagangan berlangsung, nilai tukar rupiah sempat terdepresiasi hingga mencapai 105 poin sebelum akhirnya sedikit pulih menjelang penutupan pasar.
Faktor utama yang masih membebani pergerakan rupiah berasal dari ketidakpastian geopolitik global. Meskipun ketegangan di Timur Tengah menunjukkan tanda-tanda mereda, sejumlah isu strategis dinilai masih berpotensi memicu volatilitas di pasar keuangan internasional. Salah satunya adalah langkah Amerika Serikat yang memberikan pelonggaran sanksi kepada Iran selama 60 hari sebagai bagian dari proses pembicaraan damai tahap awal. Kebijakan tersebut membuka peluang bagi Iran untuk kembali meningkatkan ekspor minyaknya ke pasar global.
Selain itu, membaiknya situasi keamanan di Lebanon turut memberikan sentimen positif terhadap stabilitas pasar energi dunia. Namun, optimisme tersebut masih dibayangi berbagai persoalan yang belum terselesaikan, termasuk terkait mekanisme inspeksi terhadap program nuklir Iran dan akses terhadap aset-aset Iran yang selama ini dibekukan oleh negara-negara Barat.
Di kawasan regional, Iran dan Oman juga disebut telah sepakat untuk melanjutkan pembahasan mengenai pengelolaan jalur pelayaran strategis pada pertemuan berikutnya. Sementara itu, pemerintah Amerika Serikat melalui Menteri Luar Negeri Marco Rubio menegaskan bahwa setiap upaya untuk mengenakan biaya transit di jalur pelayaran internasional akan bertentangan dengan ketentuan hukum internasional yang berlaku.
Ketidakpastian semakin meningkat setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Iran telah menyetujui inspeksi program nuklir tanpa batas waktu. Pernyataan tersebut segera mendapat bantahan dari pemerintah Iran yang menegaskan bahwa tidak pernah ada kesepakatan mengenai inspeksi tanpa syarat dalam proses negosiasi yang sedang berlangsung. Perbedaan pernyataan antara kedua pihak ini kembali memunculkan keraguan pasar terhadap prospek perdamaian dan stabilitas kawasan.
Dengan masih tingginya ketidakpastian geopolitik global serta dinamika hubungan antara Amerika Serikat dan Iran, pelaku pasar diperkirakan akan tetap bersikap hati-hati. Kondisi tersebut berpotensi membuat rupiah bergerak dalam pola yang fluktuatif dan tetap menghadapi tekanan terhadap dolar AS dalam jangka pendek.(red/lis)
Posting Komentar